-sebuah catatan lapangan ringkas-
By. @rahmimulyasari
Bismillah….
erjalanan kali ini mengisahkan tentang pencarian bebatuan
(lagi) dalam kegiatan KULIAH LAPANGAN 2 Teknik Geologi Univ. Jambi dengan tujuan
Kulonprogo, Yogyakarta. Mahasiswa yang ikut dalam kegiatan ini berjumlah 31
orang ditambah 4 orang dosen(Mas Eko, Mas Yudi, Mbak Lena, Aku). Kami berangkat
dari Jambi dengan pesawat jam 06.00 pagi. Sampai di Jakarta jam 7 pagi, penerbangan berikutnya
menuju Jogja dengan maskapai yang berbeda, jadi kami harus memindahkan sendiri
bagasi kami. Mengumpulkan bagasi dan pindah terminal memakan waktu yang cukup
lama mengingat jumlah rombongan yang terbilang ramai. Akhirnya kami sampai di
terminal berikutnya pada pukul 11, Alhamdulillah penerbangan berikutnya di jam 1
siang, jadi kami masih memiliki cukup waktu untuk mengurusi bagasi dan beristirahat.
Pada penerbangan kedua rombongan terpecah menajadi 2 maskapai, jadwal
keberangkatannya pun selisih 1 jam. Kami berangkat dari Jogja pada pukul 1
siang dan sampai di Jogja jam 14.30, sedangkan rombongan yang lain tiba satu
jam setelahnya. Setelah semua berkumpul, sekitar jam 05.30 sore akhirnya kami
berangkat menuju Kulonprogo, tepatnya menuju Kampus Lapangan STTNAS. Jam 8
malam kami sampai di kampus lapangan. Kampus lapangan ini sangat
baik, bangunannya masih baru, terdiri dari beberapa ruangan besar untuk kamar dan 1 aula. Kamar dosen
dan mahasiswi terletak di lantai dasar, sedangkan kamar mahasiswa putra
terletak di lantai 1. Semuanya sibuk membereskan barang bawaannya masing-masing,
setelah semuanya selesai beberes, barulah menuju ke aula untuk makan malam
bersama. Lalu kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
 |
Hari Keberangkatan |
Day 1 (4 Juli 2017)
Pagi ini kami melaksanakan orientasi medan. Kegiatan
ini diampu oleh 2 dosen STTNAS, Pak Budi dan Bu Win. Peserta orientasi medan dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok utara dan selatan. Kelompok selatan
dibimbing oleh Pak Budi, sedangkan kelompok utara dibimbing oleh Bu Win. Saya
mengikuti rombongan utara, perjalanan ke utara cukup terjal-mendaki. Stopsite pertama terletak di perempatan
jalan, di lokasi ini kami menemukan endapan. Mengenai endapan dan soil, Bu Win
memberitahu perbedaannya, "endapan terletak pada morfologi datar yang secara
gravitasi tidak bergerak lagi, sedangkan
soil berada pada morfologi yang tidak
datar dan belum tertransport, jadi jelas ia berasal dari batuan asal apa?". Bu Win memberikan pelajaran pertama, saat menemukan sebuah singkapan yang harus diperhatikan dalam pengamatan
singkapan adalah: 1. Aspek geomorfologi
(pengamatan geomorfologi suatu daerah, apakah daerah tersebut termasuk pada
daerah lembah atau bukit, dll.?); 2. Aspek litologi
(litologi termasuk dalam sedimen terkonsolidasi atau tidak terkonsolidasi, jika
tidak terkonsolidasi maka diklasifikasikan lagi apakah endapan tersebut
termasuk dalam endapan eluvial, koluvial, atau alluvial); 3. Data struktur geologi seperti patahan, breksiasi,
ataupun kekar; 4. Data Geologi pendukung
lainnya (gerakan tanah, daerah penambangan, dll.) yang bertujuan untuk
pengembangan ke depannya.
Stopsite kedua berada dekat persawahan-penanjakan. Morfologi di suatu daerah dapat dikontrol oleh litologi dan struktur, perubahan
morfologi menggambarkan perubahan tingkat resistensi batuan/litologi, keberadaan
struktur geologi juga mempengaruhi bentukan morfologi suatu daerah. Pada lokasi
pengamatan kedua yang terletak pada morfologi bergelombang, ditemukan Formasi
Nanggulan dengan variasi litologi berupa batupasir, batulempung, dan batupasir
karbonatan. Stopsite ketiga terus ke arah utara, berada di dekat jembatan,
ditemukan singkapan batulempung Nanggulan Fm., yang telah dianalisis oleh
peneliti sebelumnya dengan analisis XRD dan diketahui berjenis montmorillonit* (punya daya mengembang
dan mengkerut yang ekstrim, bila mengembang volumenya bisa menjadi 2-3 kali
dari kondisi kering). Oleh karena itu konstruksi irigasi di daerah ini menggunakan beton penahan untuk memperkuat dari pengaruh gerakan tanah.
Sekitar pukul 11 siang, kami sampai pada stopsite ketiga di Desa Dukuh (daerah menuju perbukitan dengan kelerengan terjal), kenaikan garis
kontur menandakan kami berjalan pada batuan yang lebih resisten. Litologi pada
daerah ini tersusun dari tuff karbonatan (Nanggulan Fm.). Kami melanjutkan perjalanan terus menuju ke utara dan semakin mendaki, di stopsite
berikutnya ditemukan kontak erosional antara Nanggulan Fm dan OAF (Old Andesite Formation) yang litologinya
berupa breksi, batupasir kerikilan dan batupasir. Pada stopsite terakhir ditemukan
kontak antara OAF dan Jonggrangan Fm.
Day 2 (5 Juli 2017)
Hari kedua masih orientasi medan, kali ini
dibimbing oleh Pak Budi menuju ke daerah selatan. Pak Budi kembali mengingatkan
bahwa dalam pengamatan singkapan hal yang perlu diperhatikan yaitu
geomorfologi, stratigrafi dan juga struktur geologi. Stopsite pertama berada pada sisi jalan desa berhadapan dengan Gunung Mujil, disini mahasiswa diminta
menentukan posisi dengan cara menembak puncak Gunung Mujil, cara ini sangat berguna jika sewaktu-waktu GPS yang dibawa terkendala/tidak bisa dipakai. Stopsite
kedua terletak di Kali Mataram, pada stopsite ini terlihat pembuatan irigasi
menggunakan struktur beton yang kuat, hal ini mengindikasikan bahwa daerah ini
rawan gerakan tanah. Gerakan tanah atau biasa dikenal dengan longsoran terjadi
oleh beberapa faktor: kelerengan, litologi yang porous, curah hujan, vegetasi,
dan juga struktur geologi. Stopsite ketiga berada pada kelokan jalan, mahasiswa diminta untuk
orientasi medan tanpa menggunakan GPS. Pada stopsite
selanjutnya ditemukan singkapan batupasir dan batulempung dengan sisipan
batubara/lignit**tipis. Disini mahasiswa mengukur kedudukan batuan, Pak Budi juga memberitahukan tips
mengukur kedudukan adalah dengan mengamati perubahan warna, struktur sedimen,
orientasi perlapisan serta perbedaan litologi. Mahasiswa juga membuat penampang yang berguna untuk
merekonstruksikan struktur, hubungan antara satuan batuan, serta mengukur
ketebalan. Pada singkapan batulempung yang diamati terdapat
kehadiran foraminifera besar dan kecil, kehadiran fosil ini dapat dijadikan sebagai lapisan
penanda (marker), fosil yang
digunakan sebagai disebut fosil indeks***biasanya memiliki rentang umur yang pendek.
Day 3 (6 Juli 2017)
Hari ketiga adalah kelas geomorfologi yang dibimbing
oleh Bu Lis. Mahasiswa berangkat dengan menggunakan mobil truk, Aku menaiki motor dengan
Mbak Lena. Kami berhenti di perempatan jalan, disana terdapat singkapan berupa
tuff dan batupasir karbonatan yang termasuk dalam Sentolo Fm. Pada stopsite
selanjutnya ditemukan kontak antara OAF dan Sentolo Fm. Perjalanan terus
dilanjutkan menuju Bukit Sokogelap, di perjalanan menuju Bukit Sokogelap yang
semakin mendaki tepat pada posisi tekuk lereng (break of slope), mahasiswa mengukur kelerengan. Kelerengan
yang terjal pada titik ini menandakan adanya perbedaan litologi. Akhirnya kami
sampai di Bukit Sokogelap, disana mahasiswa membuat sketsa
pandangan mata burung. Kertas HVS dengan posisi landscape dibagi menjadi 3
bagian, garis pertama dari atas merupakan pandangan mata kita, digambar dari
atas ke bawah. Selanjutnya kami makan siang di sekitar Kali Kamal, selesai
makan siang kami berjalan menuju jembatan Kali Kamal untuk mengamati
geomorfologi sungai. Kali Kamal merupakan sungai dengan stadia dewasa, terdapat
gawir sesar yang telah berkembang menjadi erosi. Perjalanan dilanjutkan, tak
jauh dari Kali Kamal mahasiswa menggambar sketsa dengan teknik
padangan mata katak. Penggambaran sketsa dilakukan dari bawah ke atas, kertas
dibagi menjadi 3 bagian, pandangan mata terletak pada bagian ketiga/sisi bawah
kertas.
Pada malam harinya Pak Setyo memberikan kuliah malam
terkait dengan stratigrafi dan struktur. Perkuliahan diikuti dengan semangat
oleh seluruh mahasiswa.
Day 4 (7 Juli 2017)
Hari keempat adalah kelas stratigrafi dan struktur
geologi. Seperti pada saat orientasi medan, mahasiswa dibagi menjadi 2
kelompok, ke arah utara dibimbing oleh Pak Adi dan ke arah selatan oleh Pak
Setyo. Aku ikut rombongan Pak Setyo, kami memasuki Kali Songgo dari jembatan
Kalisonggo. Pada stopsite pertama rombongan belum dipecah, Pak Setyo
menjelaskan tentang stratigrafi pada daerah ini, disini terdapat
lapisan batulempung Nanggulan Fm dengan nodule lempung karbonatan (ukuran
hingga bongkah). Nodule adalah material yang
terdapat pada lapisan batuan sedimen berupa bongkahan kecil yang terbentuk
karena proses diagenesa (tekanan dan temperatur) yang menyebabkan sebagian akan
menjadi lebih padat dari yang lainnya (http://toba-geoscience.blogspot.co.id). Ukuran
nodule yang lumayan besar dipengaruhi oleh batulempung yang impermeable
sehingga terbentuk ikatan yang besar pada nodule, jika batuannya porous maka
tidak akan terbentuk ikatan sebesar itu, jelas Pak Setyo. Perjalanan
dilanjutkan dengan menyusuri Kali Songgo, ditemukan endapan kuarter berupa
endapan channel dengan fragmen kerikil-bongkah, endapan ini merupakan endapan
OAF. Pada endapan ini terdapat pemilahan, yang menandakan terjadi sekitar 4x
pengendapan. Kami terus berjalan ke stopsite berikutnya, disini ditemukan fosil
gasthropoda pada singkapan batulempung,
lokasi ini termasuk Formasi Nanggulan bawah (Axinea beds). Daerah ini diinterpretasikan termasuk dalam lingkungan
pengendapan laut dangkal-transisi. Selain itu, ditemukan batupasir kuarsa
Nanggulan Fm yang tersebar tidak merata di sebelah barat. Ditemukan juga
batulempung dengan komposisi organik cukup banyak (hitam) dengan lingkungan
pengendapan transisi (tidal).
Pada stopsite keempat terdapat singkapan batulempung
organik dengan pengotor batupasir sangat halus, di singkapan ini terdapat struktur
massif batulempung dan pola perulangan batulempung dan batupasir.
Batulempung terlihat menyerpih dampak dari suhu dan tekanan, batupasir tampak
seperti sisipan. Stopsite kelima ditemukan sesar normal minor dengan offset sekitar 10 cm pada litologi
batupasir sangat halus. Stopsite keenam ditemukan batulempung yang diatasnya
terdapat endapan. Stopsite ketujuh terdapat sesar turun pada batunapal dan juga
terdapat cangkang-cangkang fosil pada satu spot (tidak menerus), daerah ini
masih termasuk dalam Nanggulan Fm. Pada stopsite kedelapan ditemukan singkapan berupa
intrusi andesit dengan struktur collumnar
joint****. Stopsite terakhir ditemukan singkapan breksi dengan fragmen
andesit, termasuk dalam OAF.
Day 5 (8 Juli 2017)
Hari kelima saya ikut dengan rombongan Pak Adi
menuju ke daerah utara. Stopsite 1 kami menemukan perlapisan batupasir dan
batulempung karbonatan. Pak Adi mengingatkan mahasiswa agar sebelum mendekati
singkapan, terlebih dahulu lihat dari jauh, lihat perbedaan warnanya, jika ada perbedaan warna pada lapisan, kemungkinan jenis
litologinya-pun berbeda, setelah itu baru dekati singkapan, deskripsi
dan ukur kedudukan lapisannya. Kali ini, mahasiswa diberikan ilmu bagaimana
mengukur kedudukan perlapisan batuan yang hampir horizontal. Pada singkapan ini juga
ditemukan fosil pada batulempung, kehadiran fosil pada suatu lapisan seringkali
dijadikan sebagai lapisan penciri/keybed.
Kami melanjutkan perjalanan menuju stopsite berikutnya, disini masih ditemukan
perlapisan batupasir dan batulempung yang termasuk dalam Nanggulan Fm. Di
stopsite berikutnya ditemukan sesar normal minor dengan offset sekitar 30 cm. Pada
stopsite selanjutnya kami menemukan batulempung dengan kehadiran fosil discocyclina dan
nummulithes yang termasuk dalam ordo foraminifera. Stopsite terakhir kami
menemukan kontak breksi dan batupasir.
Day 6-16 (9-19 Juli 2017)
Pemetaan mandiri dilaksanakan selama 11 hari, dan 1
hari dikhususkan untuk pengukuran MS (Measuring
Section) dan Struktur Geologi. Jadwal pemetaan mandiri, berangkat pada 7.30
pagi, pulang pada pukul 16.00 sore. Kegiatan malam hari-pembuatan laporan
harian dimulai pada pukul 19.30-hingga jam tak terhingga, tak jarang pembuatan
laporan berakhir pada waktu azan subuh.
MS dan struktur dilakukan pada hari ke 15 yang
berlokasi di Kali Niten. MS dilakukan dengan berkelompok, dimulailah kegiatan
membentangkan meteran tegak lurus dengan arah perlapisan, mengukur kedudukan
lapisan dan mendeskripsikan litologi setiap lapisan. Adapun kelompok yang
mendapat giliran mengukur struktur, mulai mengukur kekar-kekar yang terdapat
pada batuan, pengukuran struktur juga dilakukan pada sesar minor yang terdapat
di lapangan. Kegiatan ini berakhir sore hari dan ditutup dengan agenda “nyebur
bareng di Niten”.
Day 17 (20 Juli 2017)
Waktunya sidang. Sidang dijadwalkan pada pukul 1
siang. Sejak malam hingga pagi,semua sibuk mengejar pembuatan peta serta
laporan. Setelah makan siang, semua mahasiswa bersiap untuk ujian. Pakaian
putih-hitam menandakan mereka siap untuk ujian. Aku dapat giliran menguji dengan
Flo (asisten dari STTNAS). Seorang mahasiswa memiliki waktu ± 30 menit untuk
ujian. Macam-macam cerita sidang mereka, ada yang datang untuk ujian dengan kondisi bahan ujian yang belum
lengkap, ada yang menjawab pertanyaan dengan sangat jujur, ada yang sudah dapat
menjelaskan pekerjaannya dengan baik. Terlepas dari itu semua, Aku melihat
mereka mendapatkan sesuatu dari kuliah lapangan ini, ada tambahan ilmu dan
pemahaman yang mereka peroleh, semoga ilmu yang diperoleh penuh berkah.
Day 18 (21 Juli 2017)
Hari ini waktunya refreshing setelah melapang.
Tujuannya ke Candi Borobudur, kami berangkat menuju Candi Borobudur yang
terletak di daerah Magelang-Jawa Tengah, perjalanan ditempuh kurang lebih 40
menit. Sampai di Borobudur dimulailah agenda geowisata dan geofoto >.<.
Day 19 (22 Juli 2017)
Geowisata kali ini tujuannya Pantai Parangtritis. Hal
menarik yang diperoleh di Parangtritis adalah gumuk pasir, hasil proses sedimentasi oleh angin. Setelah makan
siang di Parangtritis perjalanan dilanjutkan ke daerah Tamansari dan Malioboro.
Pulang dari Malioboro sekitar pukul 11 malam sampai di kampus. Mengingat esok
harinya akan berangkat pada pukul 3 pagi, akhirnya Aku memutuskan untuk tidak
tidur karena harus packing.
Day 20 (23 Juli 2017)
Hari kepulangan, kami berangkat pukul 3 pagi menuju
Bandara Adi Sucipto-Yogyakarta. Keberangkatan dijadwalkan pada pukul 7.30 pagi.
Alhamdulillah kami sampai Jambi dengan selamat…semoga ilmu dari KL2 penuh berkah :).
Capture!
 |
Pak Setyo memberikan kuliah malam |
 |
Ngilmu dari Bu Win |
 |
Stopsite Terakhir-Jonggrangan Fm. |
 |
Berguru dengan Pak Budi-sembari menatap Mujil |
 |
Foto bersama-setelah ditraktir Pak Budi |
 |
Sketsa pandangan mata katak |
 |
Nodule! |
 |
Lignit |
 |
Mendengarkan dongeng-Collumnar Joint |
 |
Nummulithes |
 |
Sidang-finish-Hamdalah |
 |
Geowisata |
Istilah:
*Montmorilonit: Mineral
montmorillonite mempunyai luas permukaan lebih besar dan sangat mudah menyerap
air dalam jumlah banyak bila dibandingkan dengan mineral yang lainnya.
***Fosil indeks: Fosil
penunjuk/fosil pandu yaitu fosil yang dipergunakan sebagai penunjuk umur
relatif. Umumnya fosil ini mempuyai penyebaran vertikal pendek dan penyebaran lateral
luas, serta mudah dikenal.
****Collumnar joint: Salah satu strukur yang terbentuk pada intrusi
batuan beku, yang tegak lurus bidang pendinginnya.